dReamLike Queen
Minggu, 19 April 2009
Rossa - Tega
Menjelang hari bahagiamu
Kau tak pernah tahu aku bersedih
Kau lupakan semua kenangan lalu
Lalu kau campakkan begitu saja
Tega...
Aku tahu dirimu kini telah ada yang memiliki
Tapi bagaimanakah dengan diriku
Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu bukan saatnya
Tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini
Tanpa cintamu
Tak ingatkah kau dulu pernah berjanji
Bahagaiakan diriku selamanya
Tak berarti kah cinta kita yang lalu
Hingga kau bersama dengan dirinya
tadinya aku tak tahu lagu ini,,,tapi aku tergugah liriknya sewaktu salah satu temanku menyanyikan saat karaoke bersama,,,
Oh my God,,, lagunya seperti kisahku,,,
taPi bukan sekarang,,,
hmmm...Qra2 3 tahunan yang laLu,,,
orang yang aku sayangi,,,tapi ternyata bukan untukku...
tegaaa...
mendengar kabar dia akan menikah,,hmmm rasanya hancur dunia. Tak mungkin ku sanggup hidup tanpa cintamu.
sebenarnya ini salahku juga. tapi bagaimana? 3 tahun yang lalu aku masih terlalu muda. tak mungkin aku mengakhiri masa lajangku d umur 18 tahun. aku masih ingin begini dan begitu.
dan akhirnya dia menemukan yang lain, yang satu kepala, yang punya niat sama (pdhl aku pun punya niat sama,,,but not now).
dari awal memang salah sepertinya menjalankan hubungan itu. aku terlalu muda untuknya dan dia begitu dewasa untukku. perbedaan yang mencolok,,,9 tahun.
akhirnya dia meninggalkanku yang kekanak-kanakan
saat itu aku berfikir. oh tuhan, aku harus bagaimana? aku mencintainya, sungguh. tapi apa yang harus aku lakukan?
Aku tahu bukan saatnya, Tuk mengharap cintamu lagi, Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini, Tanpa cintamu.
aKu takut terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ternyata aku salah.
aku sanggup hidup tanpanya. aku kini telah memiliki yang lebih baik darinya. aku telah melakukan langkah yang benar. pilihan yang tepat. aku telah mendapatkan yang aku impikan.
Walau dulu berat. tapi semua telah terlewati.
Tuhan, izinkanlah aku bersama dia yang telah 2 tahun lebih ini mengisi hari2ku,,,memenuhi impianku, menyayangi aku dan aku pun begitu.
Kau tak pernah tahu aku bersedih
Kau lupakan semua kenangan lalu
Lalu kau campakkan begitu saja
Tega...
Aku tahu dirimu kini telah ada yang memiliki
Tapi bagaimanakah dengan diriku
Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu bukan saatnya
Tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini
Tanpa cintamu
Tak ingatkah kau dulu pernah berjanji
Bahagaiakan diriku selamanya
Tak berarti kah cinta kita yang lalu
Hingga kau bersama dengan dirinya
tadinya aku tak tahu lagu ini,,,tapi aku tergugah liriknya sewaktu salah satu temanku menyanyikan saat karaoke bersama,,,
Oh my God,,, lagunya seperti kisahku,,,
taPi bukan sekarang,,,
hmmm...Qra2 3 tahunan yang laLu,,,
orang yang aku sayangi,,,tapi ternyata bukan untukku...
tegaaa...
mendengar kabar dia akan menikah,,hmmm rasanya hancur dunia. Tak mungkin ku sanggup hidup tanpa cintamu.
sebenarnya ini salahku juga. tapi bagaimana? 3 tahun yang lalu aku masih terlalu muda. tak mungkin aku mengakhiri masa lajangku d umur 18 tahun. aku masih ingin begini dan begitu.
dan akhirnya dia menemukan yang lain, yang satu kepala, yang punya niat sama (pdhl aku pun punya niat sama,,,but not now).
dari awal memang salah sepertinya menjalankan hubungan itu. aku terlalu muda untuknya dan dia begitu dewasa untukku. perbedaan yang mencolok,,,9 tahun.
akhirnya dia meninggalkanku yang kekanak-kanakan
saat itu aku berfikir. oh tuhan, aku harus bagaimana? aku mencintainya, sungguh. tapi apa yang harus aku lakukan?
Aku tahu bukan saatnya, Tuk mengharap cintamu lagi, Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini, Tanpa cintamu.

aKu takut terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ternyata aku salah.
aku sanggup hidup tanpanya. aku kini telah memiliki yang lebih baik darinya. aku telah melakukan langkah yang benar. pilihan yang tepat. aku telah mendapatkan yang aku impikan.
Walau dulu berat. tapi semua telah terlewati.
Tuhan, izinkanlah aku bersama dia yang telah 2 tahun lebih ini mengisi hari2ku,,,memenuhi impianku, menyayangi aku dan aku pun begitu.
Minggu, 12 April 2009
membelai bumi menyayangi diri
PEMANASAN global menjadi momok yang menakutkan bagi semua orang. Di balik pemanasan global, sudah mengintip berbagai bencana baik besar maupun kecil yang akan menyerang dunia ini.
Seperti yang dikatakan Pangeran Charles dalam opini di koran SINDO (13/8/2008) bahwa masih banyak yang belum sadar akan dampak dan cara menanggulangi kondisi ini. Dampak dari perubahan iklim ini sudah jelas melanda dunia ini.
Kasus nyata di Indonesia yang dapat kita saksikan adalah menipisnya salju-salju di Puncak Jaya, Irian, satu-satunya tempat bersalju di Indonesia. Kalau kita menerawang ke luar negeri, kita akan mendapatkan bukti yang lebih banyak lagi. Pemanasan global telah mengakibatkan suhu di Afrika kian panas sehingga banyak tumbuhan tak dapat hidup dan akhirnya tercipta padang gersang (National Geographic).
Satu hal lagi yang paling membahayakan adalah es di Greenland mencair dengan kecepatan yang mencengangkan hingga 52 kubik mil per tahun. Jika seluruh es di Greenland mencair, air laut pun akan naik setinggi 7,2 meter (LA Times). Banyak wilayah di muka bumi ini akan terendam air laut. Isu pemanasan global ini sering dikaitkan dengan industrialisasi sehingga banyak masyarakat yang menganggap bahwa isu ini merupakan urusan negara maju.
Negara berkembang maupun negara tertinggal akhirnya tidak mau ambil pusing. Bahkan masyarakat menyerahkan tanggung jawab ini sepenuhnya kepada pemerintah sehingga masyarakat pun acuh tak acuh menghadapi "bayi" katastrofi ini. Padahal ini adalah cara pikir yang salah (fallacy of thinking).
Keramahan terhadap alam adalah jalan satu-satunya untuk menanggulangi berbagai bahaya yang mengancam kita tersebut.Kita dapat memulainya dari diri kita sendiri.Seperti yang dilakukan Al-Gore, mantan calon presiden Amerika Serikat, dengan film dokumenternya An Inconvenient Truth yang sukses diganjar Nobel Lingkungan. Dia memulainya dari dirinya sendiri.
Al Gore mengompensasi emisi karbondioksida dari aktivitas dalam bentuk program "netral karbon". Jika kita tak mempunyai biaya yang tinggi seperti Al-Gore, marilah kita mulai dengan bertindak lebih ramah terhadap lingkungan.
Gunakanlah kendaraan dengan bahan bakar rendah emisi, kalau bisa gunakanlah kendaraan umum. Hindari penggunaan barang-barang yang jelas dapat merusak lapisan ozon. Manfaatkan bahan yang mudah diurai tanah dan daur ulang barang yang masih bisa dimanfaatkan. Intinya, mulailah dari diri kita sendiri. Sayangilah dan lestarikan alam ini. (*)
Ratu Hasanah Semarini
Mahasiswa Akuntansi dan Penyiar Radio Era FM UNJ
dari koran seputar indonesia
Seperti yang dikatakan Pangeran Charles dalam opini di koran SINDO (13/8/2008) bahwa masih banyak yang belum sadar akan dampak dan cara menanggulangi kondisi ini. Dampak dari perubahan iklim ini sudah jelas melanda dunia ini.
Kasus nyata di Indonesia yang dapat kita saksikan adalah menipisnya salju-salju di Puncak Jaya, Irian, satu-satunya tempat bersalju di Indonesia. Kalau kita menerawang ke luar negeri, kita akan mendapatkan bukti yang lebih banyak lagi. Pemanasan global telah mengakibatkan suhu di Afrika kian panas sehingga banyak tumbuhan tak dapat hidup dan akhirnya tercipta padang gersang (National Geographic).
Satu hal lagi yang paling membahayakan adalah es di Greenland mencair dengan kecepatan yang mencengangkan hingga 52 kubik mil per tahun. Jika seluruh es di Greenland mencair, air laut pun akan naik setinggi 7,2 meter (LA Times). Banyak wilayah di muka bumi ini akan terendam air laut. Isu pemanasan global ini sering dikaitkan dengan industrialisasi sehingga banyak masyarakat yang menganggap bahwa isu ini merupakan urusan negara maju.
Negara berkembang maupun negara tertinggal akhirnya tidak mau ambil pusing. Bahkan masyarakat menyerahkan tanggung jawab ini sepenuhnya kepada pemerintah sehingga masyarakat pun acuh tak acuh menghadapi "bayi" katastrofi ini. Padahal ini adalah cara pikir yang salah (fallacy of thinking).
Keramahan terhadap alam adalah jalan satu-satunya untuk menanggulangi berbagai bahaya yang mengancam kita tersebut.Kita dapat memulainya dari diri kita sendiri.Seperti yang dilakukan Al-Gore, mantan calon presiden Amerika Serikat, dengan film dokumenternya An Inconvenient Truth yang sukses diganjar Nobel Lingkungan. Dia memulainya dari dirinya sendiri.
Al Gore mengompensasi emisi karbondioksida dari aktivitas dalam bentuk program "netral karbon". Jika kita tak mempunyai biaya yang tinggi seperti Al-Gore, marilah kita mulai dengan bertindak lebih ramah terhadap lingkungan.
Gunakanlah kendaraan dengan bahan bakar rendah emisi, kalau bisa gunakanlah kendaraan umum. Hindari penggunaan barang-barang yang jelas dapat merusak lapisan ozon. Manfaatkan bahan yang mudah diurai tanah dan daur ulang barang yang masih bisa dimanfaatkan. Intinya, mulailah dari diri kita sendiri. Sayangilah dan lestarikan alam ini. (*)
Ratu Hasanah Semarini
Mahasiswa Akuntansi dan Penyiar Radio Era FM UNJ
dari koran seputar indonesia